SBUMSBUM Ikhwan

N 029. MENYIMPANGNYA AQIDAH ASY’ARI DAN MATURIDI

Ayo berbelanja di Merchandise GiS

MENYIMPANGNYA AQIDAH ASY’ARI DAN MATURIDI

(Sobat Bertanya Ustadz Menjawab)  

 

Pertanyaan

Nomor : 029

Nama: M. Hadi Prawironegoro

Angkatan : N01

Grup : 079

Domisili :

 

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan, Ustadz izin bertanya mengenai aqidah. Antara Asy’ari, Maturidi dan Atsari yang sampai detik ini ana masih merasa bingung membedakannya dengan ta’asyub.

Jika ana sekarang meyakini dan berpegang dengan aqidah Atsari dan menganggap bahwa aqidah Asya’ri, Maturidi adalah aqidah yang menyimpang dan termasuk bid’ah dalam aqidah, apakah ana termasuk dikategorikan ta’asyubiyah?

Apa perbedaan antara Istiqamah dgn manhaj salaf dan bertaasyub?

Dan apakah jika aqidahnya menyimpang bisa dikategorikan kafir?

Mohon penjelasannya, Ustadz.

Syukran.

 

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

 

Jawaban

 

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

 

Secara kasat mata, Asy’ari dan Maturidi memang menyimpang.

Telah banyak dibahas oleh para ‘Ulama tentang Asy’ari yang dinisbatkan pada Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dan Maturidi yang dinisbatkan pada Abu Manshur Al-Maturidi, berkaitan dengan penyimpangannya. Bahkan penyimpangannya bukan hanya pada 1 hal saja, ada dalam hal pendalilan yang lebih mengedepankan akal, ada dalam hal iman yang tidak bertambah dan berkurang, juga dalam hal sifat Allah yang dibatasi dengan bilangan tertentu dan diserupakan tanpa sadar. Semua itu telah cukup untuk mengatakan bahwa Asy’ari dan Maturidi memiliki aqidah yang menyimpang dari Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Jika demikian, apakah mungkin orang-orang yang selamat dari aqidah menyimpang dikatakan Ta’asshub? Jelas tidak.

Ta’asshub itu fanatik pada golongan tertentu, alias tidak menerima apapun selain dari golongannya meskipun sebuah kebenaran.

Dan kebalikan dari ta’ashub adalah kokoh di atas kebenaran, berpegang teguh di atas kebenaran meskipun dulu adalah hal dibencinya.

Selain itu, apakah Salafy dan Ahlu Sunnah sendiri merupakan sebuah golongan? Tidak, Salafy adalah cara atau metode dalam beragama. Sehingga ketika seseorang berpegang teguh pada keyakinan Ahlu Sunnah dengan metode beragama seperti orang-orang shalih terdahulu, yakni memahami Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana para Shahabat Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in bukan berarti sedang masuk pada golongan tertentu. Maka jelas tidak bisa disebut Ta’asshub.

Apa sebenarnya sebab Ta’asshub? Sebabnya adalah apa yang ada di dalam hati berupa rasa bangga yang berlebih, cinta yang berlebih, pembelaan yang berlebih, sehingga akan memusuhi segala sesuatu yang berbeda dengannya, menutup diri dari yang tidak sepaham, menolak dan tidak sepakat dengan apa-apa yang datang dari selain mereka.

Sungguh sikap Ta’asshub tidak akan pernah bisa bersatu dengan sikap toleran, terbuka, menghargai dan menerima pendapat orang lain.

Lihat bagaimana Fir’aun menunjukkan ke-Ta’asshub-annya setelah Musa ‘alaihi salaam mendakwahkan kebenaran kepadanya

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ

“Fir’aun berkata: ‘Aku tidaklah mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tidaklah menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”

(QS. Ghafir : 29).

Semua ini jelas berbeda dengan bagaimana istiqamahnya seorang Muslim di atas Manhaj Salaf, kita diajarkan untuk berpegang teguh pada perkara ‘Ushul (pokok) seperti aqidah, dan toleran terhadap perkara Furu’ (cabang) seperti Fiqh terapan ketika ada perbedaan pendapat di kalangan para ‘Ulama.

Adapun mengkafirkan secara mutlak seseorang yang Aqidahnya menyimpang ini adalah sesuatu keliru. Takfir itu bukan perkara mudah. Konsekuensi dari hal ini amat sangat berat, coba bayangkan jika seseorang dikafirkan berarti tidak boleh menikahi wanita Muslimah, tidak boleh menjadi wali bagi wanita Mukminah, tidak bisa mewarisi dan mendapat waris, tidak mendapatkan fiqih jenazah layaknya seorang Muslim, dll. Na’udzubillah.

Inilah sebab mengapa Ahlu Sunnah tidak mudah mengkafirkan. Lebih baik sibukkan diri dengan ilmu.

Semoga Allah beri Taufik pada kita semua.

والله تعالى أعلم

 

Dijawab oleh : Ustadz Rosyid Abu Rosyidah

 

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: grupislamsunnah.com 

Fanpage: facebook.com/grupislamsunnah 

Instagram: instagram.com/grupislamsunnah 

WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com 

Telegram: t.me/s/grupislamsunnah 

Telegram Soal Jawab: t.me/GiS_soaljawab 

YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Ayo berbelanja di Merchandise GiS

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button