SBUMSBUM Akhwat

T 021. MENAHAN BUANG ANGIN KETIKA SHALAT

Ayo berbelanja di Merchandise GiS

MENAHAN BUANG ANGIN KETIKA SHALAT

(Sobat Bertanya Ustadz Menjawab)

 

Pertanyaan

Nama : Istiqomatur Rizqi

Angkatan : 01

Grup : 111

Domisil :

 

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Semoga Ustadz beserta keluarga senantiasa dalam lindungan dan limpahan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Afwan Ustadz izin mau bertanya, bagaimana jika ketika shalat ingin buang angin, boleh ditahan atau kita batalkan saja shalatnya?

 

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم

 

Jawaban

 

وعليكم السلام ورحمة اللّه وبركاته

بسم الله

 

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘’Alaihi Wa Sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar)”.

(HR. Muslim No. 560).

Bagi ulama yang berpendapat bahwa khusyu’ termasuk dalam kewajiban dalam shalat, berarti maksud kata “laa” dalam hadits menunjukkan tidak sahnya shalat dengan menahan kencing. Sedangkan menurut jumhur atau mayoritas ulama bahwa khusyu’ dihukumi Sunnah, bukan wajib. Sehingga “laa” yang dimaksud dalam hadits adalah menafikkan kesempurnaan shalat atau hadits itu diartikan “tidak sempurna shalat dari orang yang menahan kencing”.

Lantas bagaimana dengan kentut?

Syaikh Ibnu Utsaimin juga menyatakan bahwa menahan kentut (angin) sama hukumnya seperti menahan kencing dan buang air besar.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, menahan kentut dihukumi makruh.

Imam Nawawi berkata, “Menahan kencing dan buang air besar (termasuk pula kentut) mengakibatkan hati seseorang tidak konsen di dalam shalat dan khusyu’nya jadi tidak sempurna. Menahan buang hajat seperti itu dihukumi makruh menurut mayoritas ulama Syafi’iyah dan juga ulama lainnya.

Maka bisa disimpulkan, lebih baik dibatalkan shalatnya, tunaikan hajat kita, setelah itu baru kita fokus untuk shalat.

 

Referensi :

  1. Fathu Dzil Jalali wal Ikrom, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1426 H, 2: 511-517.
  2. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan ke-12.

والله تعالى أعلم

 

Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Beni Apriono.

Diperiksa oleh : Ustadz Amri Azhari, Lc., MA.

 

Official Account Grup Islam Sunnah (GiS)⁣⁣

WebsiteGIS: grupislamsunnah.com

Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah

Instagram: instagram.com/grupislamsunnah

WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com

Telegram: t.me/s/grupislamsunnah

Telegram Soal Jawab: https://t.me/GiS_soaljawab

YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Ayo berbelanja di Merchandise GiS

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button